RESOLUSI KEPEMIMPINAN NASIONAL
Oleh: Arif Safrodin
INDONESIA dalam beberapa dekade telah mengalami pergantian pemimipin. Sudahkah para pemimpin di negeri ini bersikap amanah, bekerja ikhlas untuk benar-benar mewujudkan visinya bagi segenap rakyat?
Kemerdekaan dan pemimpin itu ibarat dua sejoli. Satu dalam kesatuan untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Kemerdekaan apinya dan pemimpin lilinnya. Api dan lilin tersebut membelah gelap dan menuntun anak-anak bangsa menuju dunia “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Soekarno menyebut, kemerdekaan itu ibarat jembatan emas. Jadi, esensi dari kemerdekaan adalah adanya perubahan radikal yang signifikan dari periode terjajah ke periode baru yang nyata. Soekarno menyebutnya sebagai periode Masyarakat Adil dan Makmur. Ketika kemerdekaan sudah diraih, kapan pun dan di mana pun berada rakyat seharusnya tak lagi terjebak dalam sudut-sudut gelap, seperti dalam periode terjajah. Pemimpin harus membawa api kemerdekaan untuk segera melepaskan rakyatnya dari sudut-sudut kegelapan.
Krisis kepemimpinan menjadi salah satu persoalan yang mendasar bagi bangsa ini. Kurang lebih dalam satu dekade ini, mayoritas pemimpin yang tampil kepermukaan gagal mempresentasikan cita-cita reformasi. Berbagai indikasi seperti minimnya visi kebangsaan, pudarnya rasa tanggung jawab, maraknya kasus pelanggaran hukum dan praktik asusila menjadi bukti tak terbantahkan.
Fenomena tersebut hampir merata disemua tingkat kepemimpinan mulai dari pusat sampai daerah-daerah bahkan sampai ke dusun-dusun dan RT-RT. Bahkan pemimpin yang mengusung dan lahir dari rahim reformasipun mengalami nasib serupa. Bahkan masih segar dalam ingatan kita sejumlah politisi nasional yang terjerat kasus korupsi, baik yang berlatar belakang partai nasionalis maupun religious islamis.
Ketika melihat situasi tersebut sebenarnya bangasa ini membutuhkan seorang pemimpin yang kuat dan mampu memimpin dengan aksi. Bukan hanya sekedar janji-janji buta yang membuat rakyat terlena, tetapi aksi nyata yang rakyat butuhkan. Seperti telah diungkapkan oleh Maha Patih Gadjah Mada yang diangkat dari ajaran Prabu Arjuna Sasrabahu dalam pewayangan, yaitu Panca Titi Darmaning Prabu atau lima kewajiban sang pemimpin, yang terdiri dari:
1. Handayani Hanyakra Purana
Seorang pemimpin senantiasa memberikan dorongan motivasi, dan kesempatan bagi generasi mudanya atau anggotanya untuk melangkah ke depan tanpa ragu-ragu.
Handayani Hanyakra Purana merupakan kewajiban pemimpin untuk melakukan kaderisasi kepemimpinan. Leader creates leaders. Proses ini dilakukan dengan laku magang atau nyantrik, learning by doing, dimana pemimpin menurunkan ilmu dan kearifannya kepada yang nyantrik. Proses gemblengan lahiriah, batiniah, dan spiritualitas dilakukan dengan dengan cara menjalani atau laku. Dalam istilah modern disebut sebagai capacity building yang dilakukan dengan cara belajar sambil menjalani. Jadi, belajar kepemimpinan itu bukan hanya secara kognitif saja.
2. Nadya Hanyakrabawa
Seorang pemimpin di tengah-tengah masyarakatnya senantisa berkonsilidasi utuk memberi bimbingan dan mengambil keputusan dengan musyawarah untuk mufakat yang mengutamakan kepentingan masyarakat. Nadya Hanyakrabawa merupakan kewajiban pemimpin masyarakat untuk selalu ajur-ajèr atau cair atau tidak menjaga jarak dan menyatu dengan masyarakat yang dipimpinnya dalam memecahkan masalah yang dihadapi tanpa harus mendominasi proses. Dalam proses ini terlihat bagaimana seorang pemimpin seperti dalam menjalankan Ing Madya Mangun Karsa, bahkan bila terjadi perbedaan pendapat maka musyawarah untuk mufakat seperti dalam sila ke empat Pancasila yang diutamakan
3. Ngarsa Hanyakrabawa
Seorang pemimpin sebagai seorang yang terdepan dan terpandang senantiasa memberikan panutan-panutan yang baik sehingga dapat dijadikan suri teladan bagi masyarakatnya. Ngarsa Hanyakrabawa, seorang pemimpin sebagai Values System Transformers adalah suri tauladan, maka pemimpin harus memberi contoh mengenai Values System yang telah diberikan. Satunya kata dan perbuatan seorang pemimpin sehingga cantrik atau masyarakat yang dipimpinnya bisa belajar dengan cara melihat, merasakan dan melakukan. Ini seperti Ing Ngarso Sung Tulodho.
4. Nir Bala Wikara
Seorang pemimpin tidaklah selalu menggunakan kekuatan atau kekuasaan di dalam mengalahkan musuh-musuh atau saingan politiknya, Meskipun demikian, berusaha menggunakan pendekatan pikiran, lobi sehingga dapat menyadarkan dan disegani pesaing-pesainnya. Nir Bala Wikara, seorang pemimpin harus cerdas dalam menggunakan sumber-sumber kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya dalam konflik, pan mapan atau tepat waktu, tepat tempat, tepat situasi, tepat cara, dan tepat sarana. Lebih menghindari konflik lahiriah dan lebih mengusahakan untuk menggunakan cara-cara yang lebih sesuai dengan titah manusia yang manusiawi yaitu mengedepankan nalar dan nurani. Meskipun demikian, bukan berarti seorang pemimpin tidak perlu mempunyai kelebihan-kelebihan? bukan ! Kelebihan itu tidak perlu diobral sehingga menjadi adigang-adigung-adiguno, sopo siro sopo aku, tetapi digunakan pada saat yang tepat. Kelebihan-kelebihan itu akan terpancar dengan sendidiranya dari dalam diri pemimpin bila laku itu dilakukan sehingga menjadi pemimpin yang Ambeg Para Amarta dan Bèrbudi Bowo Laksono yang akan membuatnya disegani oleh lawan dan kawan.
5. Ngarsa Dana Upaya
Pemimpin sebagai seorang ksatria senantiasa berada terdepan dalam mengorbankan tenaga, waktu, materi, pikiran, bahkan jiwanya sekalipun untuk kesejahteraan dan kelangsungan hidup masyarakat. Ngarsa Dana Upaya, seorang pemimpin adalah seorang wira, ksatria yang memiliki karakter pahlawan, yaitu pribadi yang rela mengorbakan enerji, waktu, pikiran, bahkan jiwa dan raga bagi kejayaan nusa dan bangsanya. Jadi, pemimpin adalah patriot. Ini tentu saja sangat kontekstual dengan Amukti Palapa yang tentu saja membutuhkan banyak patriot. Bagaimana dengan bangsa ini saat ini? Keterpurukan bangsa ini dan semangat kebangsaan yang diufuk barat serta demikian banyak masalah besar yang sedang dihadapi oleh bangsa ini jelas membutuhkan banyak patriot disegala bidang untuk menggerakkan masyarakat guna mengembalikan kejayaan negeri. Pendidikan adalah tempat dimana masa depan bangsa digantungkan.
Semacam Kesimpulan
Dengan mengetahui beberapa dari pidato-pidato presiden Soekarno, dan dari harapan-harapan serta cita-cita beliau dan beberapa sikap kepemimpinan yang ditonjolkan oleh Maha Patih Gadjah Mada, maka dapat disimpulkan bahwa Negara akan maju tergantung pada pemimpinnya dan pemimpin yang baik yaitu pemimpin yang mendahulukan hak-hak rakyatnya dibanding hak-hak pribadinya. Dan dengan menjalankan Panca Titi Darmaning Prabu maka niscaya cita-cita dan harapan tersebut tidak lagi menjadi sebuah angan-angan melainkan menjadi nyata.
Sunday, October 21, 2018
RESOLUSI KEPEMIMPINAN NASIONAL
Arif Safrodin | Sunday, October 21, 2018
RESOLUSI KEPEMIMPINAN NASIONAL
Oleh: Arif Safrodin
INDONESIA dalam beberapa dekade telah mengalami pergantian pemimipin. Sudahkah para pemimpin di negeri ini bersikap amanah, bekerja ikhlas untuk benar-benar mewujudkan visinya bagi segenap rakyat?
Kemerdekaan dan pemimpin itu ibarat dua sejoli. Satu dalam kesatuan untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Kemerdekaan apinya dan pemimpin lilinnya. Api dan lilin tersebut membelah gelap dan menuntun anak-anak bangsa menuju dunia “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Soekarno menyebut, kemerdekaan itu ibarat jembatan emas. Jadi, esensi dari kemerdekaan adalah adanya perubahan radikal yang signifikan dari periode terjajah ke periode baru yang nyata. Soekarno menyebutnya sebagai periode Masyarakat Adil dan Makmur. Ketika kemerdekaan sudah diraih, kapan pun dan di mana pun berada rakyat seharusnya tak lagi terjebak dalam sudut-sudut gelap, seperti dalam periode terjajah. Pemimpin harus membawa api kemerdekaan untuk segera melepaskan rakyatnya dari sudut-sudut kegelapan.
Krisis kepemimpinan menjadi salah satu persoalan yang mendasar bagi bangsa ini. Kurang lebih dalam satu dekade ini, mayoritas pemimpin yang tampil kepermukaan gagal mempresentasikan cita-cita reformasi. Berbagai indikasi seperti minimnya visi kebangsaan, pudarnya rasa tanggung jawab, maraknya kasus pelanggaran hukum dan praktik asusila menjadi bukti tak terbantahkan.
Fenomena tersebut hampir merata disemua tingkat kepemimpinan mulai dari pusat sampai daerah-daerah bahkan sampai ke dusun-dusun dan RT-RT. Bahkan pemimpin yang mengusung dan lahir dari rahim reformasipun mengalami nasib serupa. Bahkan masih segar dalam ingatan kita sejumlah politisi nasional yang terjerat kasus korupsi, baik yang berlatar belakang partai nasionalis maupun religious islamis.
Ketika melihat situasi tersebut sebenarnya bangasa ini membutuhkan seorang pemimpin yang kuat dan mampu memimpin dengan aksi. Bukan hanya sekedar janji-janji buta yang membuat rakyat terlena, tetapi aksi nyata yang rakyat butuhkan. Seperti telah diungkapkan oleh Maha Patih Gadjah Mada yang diangkat dari ajaran Prabu Arjuna Sasrabahu dalam pewayangan, yaitu Panca Titi Darmaning Prabu atau lima kewajiban sang pemimpin, yang terdiri dari:
1. Handayani Hanyakra Purana
Seorang pemimpin senantiasa memberikan dorongan motivasi, dan kesempatan bagi generasi mudanya atau anggotanya untuk melangkah ke depan tanpa ragu-ragu.
Handayani Hanyakra Purana merupakan kewajiban pemimpin untuk melakukan kaderisasi kepemimpinan. Leader creates leaders. Proses ini dilakukan dengan laku magang atau nyantrik, learning by doing, dimana pemimpin menurunkan ilmu dan kearifannya kepada yang nyantrik. Proses gemblengan lahiriah, batiniah, dan spiritualitas dilakukan dengan dengan cara menjalani atau laku. Dalam istilah modern disebut sebagai capacity building yang dilakukan dengan cara belajar sambil menjalani. Jadi, belajar kepemimpinan itu bukan hanya secara kognitif saja.
2. Nadya Hanyakrabawa
Seorang pemimpin di tengah-tengah masyarakatnya senantisa berkonsilidasi utuk memberi bimbingan dan mengambil keputusan dengan musyawarah untuk mufakat yang mengutamakan kepentingan masyarakat. Nadya Hanyakrabawa merupakan kewajiban pemimpin masyarakat untuk selalu ajur-ajèr atau cair atau tidak menjaga jarak dan menyatu dengan masyarakat yang dipimpinnya dalam memecahkan masalah yang dihadapi tanpa harus mendominasi proses. Dalam proses ini terlihat bagaimana seorang pemimpin seperti dalam menjalankan Ing Madya Mangun Karsa, bahkan bila terjadi perbedaan pendapat maka musyawarah untuk mufakat seperti dalam sila ke empat Pancasila yang diutamakan
3. Ngarsa Hanyakrabawa
Seorang pemimpin sebagai seorang yang terdepan dan terpandang senantiasa memberikan panutan-panutan yang baik sehingga dapat dijadikan suri teladan bagi masyarakatnya. Ngarsa Hanyakrabawa, seorang pemimpin sebagai Values System Transformers adalah suri tauladan, maka pemimpin harus memberi contoh mengenai Values System yang telah diberikan. Satunya kata dan perbuatan seorang pemimpin sehingga cantrik atau masyarakat yang dipimpinnya bisa belajar dengan cara melihat, merasakan dan melakukan. Ini seperti Ing Ngarso Sung Tulodho.
4. Nir Bala Wikara
Seorang pemimpin tidaklah selalu menggunakan kekuatan atau kekuasaan di dalam mengalahkan musuh-musuh atau saingan politiknya, Meskipun demikian, berusaha menggunakan pendekatan pikiran, lobi sehingga dapat menyadarkan dan disegani pesaing-pesainnya. Nir Bala Wikara, seorang pemimpin harus cerdas dalam menggunakan sumber-sumber kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya dalam konflik, pan mapan atau tepat waktu, tepat tempat, tepat situasi, tepat cara, dan tepat sarana. Lebih menghindari konflik lahiriah dan lebih mengusahakan untuk menggunakan cara-cara yang lebih sesuai dengan titah manusia yang manusiawi yaitu mengedepankan nalar dan nurani. Meskipun demikian, bukan berarti seorang pemimpin tidak perlu mempunyai kelebihan-kelebihan? bukan ! Kelebihan itu tidak perlu diobral sehingga menjadi adigang-adigung-adiguno, sopo siro sopo aku, tetapi digunakan pada saat yang tepat. Kelebihan-kelebihan itu akan terpancar dengan sendidiranya dari dalam diri pemimpin bila laku itu dilakukan sehingga menjadi pemimpin yang Ambeg Para Amarta dan Bèrbudi Bowo Laksono yang akan membuatnya disegani oleh lawan dan kawan.
5. Ngarsa Dana Upaya
Pemimpin sebagai seorang ksatria senantiasa berada terdepan dalam mengorbankan tenaga, waktu, materi, pikiran, bahkan jiwanya sekalipun untuk kesejahteraan dan kelangsungan hidup masyarakat. Ngarsa Dana Upaya, seorang pemimpin adalah seorang wira, ksatria yang memiliki karakter pahlawan, yaitu pribadi yang rela mengorbakan enerji, waktu, pikiran, bahkan jiwa dan raga bagi kejayaan nusa dan bangsanya. Jadi, pemimpin adalah patriot. Ini tentu saja sangat kontekstual dengan Amukti Palapa yang tentu saja membutuhkan banyak patriot. Bagaimana dengan bangsa ini saat ini? Keterpurukan bangsa ini dan semangat kebangsaan yang diufuk barat serta demikian banyak masalah besar yang sedang dihadapi oleh bangsa ini jelas membutuhkan banyak patriot disegala bidang untuk menggerakkan masyarakat guna mengembalikan kejayaan negeri. Pendidikan adalah tempat dimana masa depan bangsa digantungkan.
Semacam Kesimpulan
Dengan mengetahui beberapa dari pidato-pidato presiden Soekarno, dan dari harapan-harapan serta cita-cita beliau dan beberapa sikap kepemimpinan yang ditonjolkan oleh Maha Patih Gadjah Mada, maka dapat disimpulkan bahwa Negara akan maju tergantung pada pemimpinnya dan pemimpin yang baik yaitu pemimpin yang mendahulukan hak-hak rakyatnya dibanding hak-hak pribadinya. Dan dengan menjalankan Panca Titi Darmaning Prabu maka niscaya cita-cita dan harapan tersebut tidak lagi menjadi sebuah angan-angan melainkan menjadi nyata.
No comments:
Post a Comment