BAB I
PENDAHULUAN
A. Alasan Pemilihan Judul
Untuk judul yang dibahas dalam
makalah ini adalah tentang “Teori Allport” dengan alasan karena judul makalah
atau pembahasan tersebut sudah ditentukan oleh dosen mata kuliah Teori
Kepribadian.
Namun judul pembahasan tersebut
juga metrupakan kesepakatan anggota kelompok dengan harapan bisa memberikan
pengetahuan mengenai teori kepribadian khususnya teori allport.
B. Tujuan penulisan
1.
Untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Teori
Kepribadian.
2.
Untuk melatih daya pikir mengembangkan kreatifitas
dan potensi yang kami miliki.
3. Agar mahasiswa bisa menganalisis,mengetahui
tentang apa kepribadian yang sebenarnya dalam pendidikan dan bimbingan
konseling.
4.
Untuk memacu mahasiswa lewat pengetahuan tersebut
agar mahasiswa bisa memberikan kontribusi lebih terhadap perkembangan Bk
C. Problematika
1. Apa pengertian Kepribadian?
2. Bagaimana memahami teori Allport
dengan kepribadian?
3. Bagaiman mengaplikasikan teori
Allport dengan kepribadian dalam konseling?
D. Merode Pengumpulan Data
Dalam penyusunan makalah ini,
penyusun menggunakan metode Pengumpulan data dengan menggunakan metode studi
pustaka yaitu dengan menggunakan buku yang didukung dengan pengumpulan
informasi dengan mengakses internet.
BAB II
TEORI ALLPORT
STRUKTUR DAN
DINAMIKA KEPRIBADIAN
Pada dasarnya setiap manusia memilki kepribadian yang berbeda anatara yang
satu dengan yang lain. Pngertian kepribadian secara umum ini adalah tentang
perilaku yang ada dalam diri seseorang dan mempunyai karakteristik / watak
tersendiri dalam kehidupannya. Dalam ilmu Ilmu Psikologi, kepribadian dapat
diartikan sebagai suatu studi empiris yang terus-menerus, dengan maksud
bagaimana kita mengerti pola tingkah laku manusia, bukan untuk digeneralisasi,
tapi untuk mengetahui sejauh mana orang itu berbeda satu dengan yang lain.
Kepribadian
itu memiliki banyak arti, bahkan dengan banyaknya boleh dikatakan jumlah
definisi dan arti dari kepribadian adalah sejumlah orang yang menafsirkannya.
Hal ini terjadi karena adanya perbedaan dalam penyusunan teori, penelitian dan
pengukurannya. Dalam pembahasan kajian / materi
tentang teori kepribadian ( Goldon Allport 1897-1967 ) dapat dipelajari sebagai
berikut.
A.
KEPRIBADIAN, WATAK DAN TEMPERAMENT
a. Kepribadian
Goldon
Allport adalah ahli teori kepribadian pertama yang mempelajari orang-orang
dewasa yang matang dan normal dan bukan orang-orang yang neurotis, sehingga dia
mengembangkan suatu teori yang hampir seluruhnya mengenai kepribadian yang
sehat. Allport mengemukakan adanya
pemisahan fungsional antara anak dan orang dewasa yang sehat. Menurutnya
pengaruh masa kanak-kanak dapat menyebabkan perbedaan antara neurosis dan
kesehatan psikologis yakni kepribadian yang sehat yang segera setelah
terbentuk, bebas dari masa lampau.
Jadi kesehatan psikilogis adalah melihat ke depan, tidak melihat ke
belakang. Pandangannya adalah kepada apa yang diharapkan orang itu untuk
menjadi, dan bukan kepada apa yang sudah terjadi dan tidak dapat diubah.
Allport juga mengungkapkan pentingnya peningkatan dan bukan pengurangan tingkat
tegangan.
Untuk definisi kepribadian yang detail menurut Allport adalah suatu
organisasi dinamis dari sistem psikofisis individu yang menentukan tingkah lau
dan pikiran individu secara khas.
Ø Dalam teori Allport antisipasi-antisipasi adalah penting dalam membantu
kita untuk menentukan siapa dan apakah kita ini, dalam membentuk identitas diri
kita. Selain tentang kesehatan mental Allport berpendapat bahwa
kepribadian-kepribadian sehat terarah kepada orang lain, jadi orang yang matang
terlibat secara aktif dan terikat pada sesuatu atau seseorang diluar diri.
Ø Allport juga mengungkapkan bahwa orang yang sehat dapat mencintai dan
memperluas dirinya kedalam hubungan yang penuh perhatian dengan orang-orang
lain, pertumbuhan dan pemenuhan orang lain sama pentingnya dengan pertumbuhan
dan perkembangan dirinya sendiri. Inilah orang-orang yang sangat realistis,
mereka mengetahui diri mereka dan menerima keterbatasan-keterbatasan mereka dan
tidak terpukul oleh keterbatasan-keterbatasan itu. Jadi, orang-orang yang
matang mengetahui diri mereka siapadan karena itu mereka aman dalam hubungan
mereka dengan diri mereka dan dengan dunia sekitar mereka.
b. Watak ( character )
Walaupun
istilah kepribadian dan watak sering digunakan secara bertukar-tukar, namun
Allport menunjukkan, bahwa biasanya kata watak menunjukkan arti normatif, serta
menyatakan bahwa watak adalah pengertian ethis dan menyatakan, bahwa ”character
is personality evaluated, and personality is character devaluated”. (Watak
adalah kepribadian dinilai, dan kepribadian adalah watak tak dinilai).
c. Tempramen
Bagi allport
temperament adalah bagian khusus dari kepribadian dengan maksud yaitu suatu
gejala karakteristik daripada sifat emosi individu, termasuk juga mudah tidaknya
kena rangsangan emosi, kekuatan serta kecepatannya bereaksi, kwalitet kekuatan
suasana hatinya, dan gejala ini tergantung kepada faktor konstitusional, dan
karenanya terutama berasal dari keturunan.
B. SIFAT, SIKAP DAN TYPE
a. Sifat ( Trait
)
Pengertian
sifat dapat diartikan sebagai sistem neurophysis yang digeneralisasikan dan
diarahkan, dengan kemampuan untuk menghadapi bermacam-macam perangsang secara
sama, dan memulia serta membimbing tingkah laku adaptif dan ekspresi secara
sama. Yang dicatat mengenai definisi ini ialah tekanan terhadap individual dan
kesimpulan bahwa kecendrungan itu tidak hanya terikat kepada sejumlah kecil
perangsang atau reaksi, melainkan dengan seluruh pribadi manusia. Pernyataan
“neurophychic system” menunjukkan jawaban affirmatif yang diberikan oleh
Allport terhadap pertanyaan apakah “trait” itu benar-benar ada pada individu.
b. Sikap ( atitudes
)
Bagi Allport
sifat dan sikap adalah predisposisi untuk berespond, kedua-duanya khas,
kedua-duanya memulai dan membimbing tingkah laku. Keduanya adalah hasil dari
faktor genetis dan belajar.
Namun ada
juga perbedaan diantara keduanya :
1.
Sikap (aatitude) itu berhubungan
dengan sesuatu obyek atau sekelompok obyek, sedangkan sifat tidak. Jadi sifat
umum daripada trait hampir selalu lebih besar/luas dari pada sikap, dalam
kenyataannya makin besar jumlah obyek yang dikenai sikap itu, maka sikap makin
mirip kepada sikap dapat berbeda-beda dari yang lebih khusus kelebih umum,
tetapi kalau sifat selalu umum.
2.
Sikap biasanya memberikan penilaian
(menerima atau menolak) terhadap obyek yang diahadi, sedangkap sifat tidak.
c. Type
Alport
membedakan antara sifat dan type. Menurut Allport orang dapat memiliki sifat
tetapi tidak semua type. Type adalah konstruksi ideal si pengamat dan seseorang
dapat disesuaikan dengan type itu tetapi dengan konsekwensi diabaikan
sifat-sifat khas individualinya. Sifat dapat mencerminkan sifat khas pribadi
sedangkan type malah menyembunyikannya. Jadi bagi Allport, type menunjukkan
perbedaan-perbedaan buatan yang begitu sama dengan kenyataan, sedangkan sifat
adalah refleksi sebenarnya daripada yang benar-benar ada.
Sifat-sifat
umum dan sifat-sifat individual
Suatu hal
yang amat penting dalam mempelajari teori Allport ini ialah berusaha mengerti
mengenai perbedaan antara sifat-sifat umum dan sifat-sifat individual. Dia
menyatakan, bahwa di dalam kenyataan tidak pernah ada dua individu mempunyai sifat
yang benar-benar sama.
d) Sifat
pokok, sifat sentral dan sifat sekunder
Bahwa suatu
sifat-sifat itu merupakan predisposisi-predisposisi umum bagi tingkah laku. Ada
satu soal lagi mengenai hal ini, yaitu apakah semua sifat itu pada pokoknya
mempunyai taraf keumuman yang sama, dan apabila tidak bagaimanakah cara
membeda-bedakan taraf itu. Allport membeda-bedakan antara sifat pokok, sifat
sentral dan sifat sekunder :
(1) Sifat
Pokok
Sifat pokok
ini demikian menonjolnya sehingga hanya sedikit saja kegiatan-kegiatan yang tak
dapat dicari baik secara langsung maupun tidak langsung bahwa kegiatan itu
berlangsung karena pengaruhnya. Tidak ada sifat semacam itu yang lama
tersembunyi, individu dikenal dengan sifat itu, dan bahkan mungkin menjadi
terkenal dalam sifat itu. Kualitas yang demikian dominan pada individu itu
sering disebut the intesif trait, the ruling passion, atau the radix of live.
Maka sifat ini relatif kurang biasa dan kurang menampak pada tiap orang. Contohnya Orang Narsistik adalah orang yang memberikan perhatian kuat dan
terus-menerus pada kebutuhan dan ketertarukannya.
(2) Sifat
Sentral ( central trait )
Sifat
sentral ini lebih khas, dan yang merupakan kecendrungan-kecendrungan individu
yang sangat khas/karakteristik, sering berfungsi dan mudah ditandai.misalkan
orang introspektif, obsesif, melankolis, dramatik.
(3) Sifat
Sekunder ( secundary trait )
Sifat
sekunder ini nampaknya berfungsi lebih terbatas, kurang menentukan didalam
deskripsi kepribadian, dan lebih terpusat (khusus) response-response yang
didasarinya serta perangsang-perangsang yang dicocokinya. Misalnya Seseorang yang menyenangkan, mungkin meledak marah ketika seseorang
menghina kelompoknya.
C. ORANG YANG
MATANG MODEL ALLPORT
Salah satu pendekatan yanng berguna terhadap terhadap pemahaman psikologis
Allport mengemukakan tema–tema pokok dari teori kepribadian dan menunjukkan
bagaimana tema–tema itu berbeda dari apa yang didapat pada Freud. Tema–tema
tersebut adalah :
a) Allport tidak percaya bahwa orang
yang matang dan sehat dikontrol dan dikuasai oleh kekuatan–kekuatan tak sadar
yang tidak dapat dilihat dan dipengaruhi, tidak didorong oleh konflik tak
sadar. Begitu pula dengan tingkah laku mereka, tidak ditentukan oleh hal atau
kejadian yang ada di jauh dalam pandangan. Kekuatan-kekutan tak sadar itu hanya
memepengaruhi orang yang neurotis. Individu yang sehat dan yang berfungsi pada
tingkat rasional dan sadar, menyadari sepenuhnya kekuatan yang membimbing
mereka, serta dapat mengontrol kekuatan–kekuatan itu
b) Kepribadian yan matang tidak
dikontrol oleh taruma dan konflik masa kanak– kanak. Orang yang sehat dibimbing
dan diarahkan pada masa sekarang, oleh intensi dan aspirasi – aspirasi masa
depan, berpandangan optimis, tidak kembali pada msa lalu.
c) Antara orang yang sehat dan orang
neurotis tidak ada kesamaan secara fungsional. Dalam pandangan Allport orang
yang neurotis berada pada kehidupan konflik dan pengalaman anak–anak,
sedangakan ornag yang sehat befungsi pada suatu taraf yang berbeda dan lebh
tinggi.
d) Allport lebih memfokuskan mempelajari orang dewasa yang matang
(berlawanan dengan tokoh psikologi yang lain) yang lebih fokus pada orang
neurotis. Karena itu dapat dikatakan bahwa sistem dari Allport hanya
berorientasi pada kesehatan.
D. PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
Allport mengakui bahwa masa kanak-kanak mempunyai andil dalam mewujudkan
pribadi yang sehat, hanya saja hubungan itu tidak bersifat fungsional yang
berkesinambungan. Menurut Allport peranan orang tua (ibu) mempengaruhi
perkembangan proprium anak.Jika seorang anak mendapat kasih sayang yang cukup,
perasaan aman,akan menumbuhkan identitas diri dan diri akan meluas.
Demikian pula jika seorang anak yang dibesarkan dalam kondisi tidak aman,
agresif, penuh tuntutan, egosentris, pertumbuhan psikologisnya berkurang.
Sebagai seorang dewasa, orang itu akan dikontrol oleh dorongan masa kanak –
kanak dan oleh keinginan dan konflik dan mungkin mengembangakan suatu bentuk
sakit jiwa.
Dalam Perkembangan kepribadian / Proprium Allport membagi dalam beberapa
tahap, yaitu sebagai berikut:
Proprium adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan ego. Proprium
menggambarkan ego sebagai sesuatu yang dengan segera dapat kita sadari meliputi
perasaan jasmaniah, identitas diri, harga diri, rasa keakuan, gambaran diri.
Proprium tidak dibawa sejak lahir melainkan berkembang karena perkembangan
individu. Allport menghindari ego sebagai penggerak utama kepribadian.
1. Pada tiga
tahun pertama ( 0-3 tahun ) terdapat tiga aspek, yaitu ;
a) Sense
of bodily self (diri fisik / jasmaniah).
Kita dilahirkan dengan suatu perasaan tentang diri, ; perasaan tentang diri
bukan merupakan bagian dari warisan keturunan. Seiring bertambahnya kompleksnya
beajar dan pengalam maka berkembanag suatu perbedaan yang kabur antara benda
yanga ada pada diri sendiri denga hal lain
b) Sense
of continuing self identity (identitas diri yang berkesinambungan).
Pada tahap ini seorang anak mulai menyadari akan identitasnya sebagai
sesuatu terpisah dengan yang lain. Anak mengenal nama, dan menyadari bahwa hari
ini merupakan bayangan kita di hari sebelumnya. Menurut Allport nama seseorang
memegang peranan penting dalam identitas diri, karena merupakan lambangdari
kehidupan seseorang yang mengenal dirinya dan memebedakan dirinya dengan orang
lain
c) Self
esteem atau pride (bangga).
Harga diri ini mencakup perasaan bangga anak sebagau suatu hasil dari
belajar dan mengerjakan tugan atas usahanya sendiri. Pada tahap in i minat anak
untuk mengeksplor dunia cenderungn meningkat, sense of knowledge yang tinggi.
Allport myakini bahawa masa ini merupakan masa penentu, jika orang tua terlalau
menghalangi kebutuhan anak, maka perasaan harga diri yang timbul dapat
dirusakkan. Inti dari harga diri ini ialah hak untuk otonom.
2. Perkembangan proprium pada usia
4- 6 tahun mencakup ;
a) Extension
of self (perluasan diri).
Pada tahap ini anak mulai menyadari orang laian dalam lingkungan serta
fakta bahwa beberapa diantaranya adalah miliknya. Anak mempelajari arti dan
nilai dari milik seperti terungkap dalam kata ” bagus sekali punyaku ”. Tahap
ini merupakan permulaan dari kemampuan seseorang untuk memperpanjang dan
memperluas dirinya, untuk memasukkan tidak hanya benda tapi juga abstraksi,
nilai, dan kepercayaan.
b) Self
image (gambaran diri).
Tahap ini menunjukkan bagaimana seorang anak melihat dirinya dan
pendapatnya tentang dirinya. Gambaran ini berkembang dari interaksi antara
orang tua dan anak. Melalaui pujian dan hukuman anak belajar bahwa orang tuanya
mengharapkan untuk melakukan perbuatan atau tingkah laku tertentu. Dengan
mempelajari harapan orang tua, anak mengembangkan dasar perasaan tanggung jawab
moral serta untuk perumusan tentang tujuan hidup dan intensi
3. Perkembangan
proprium usia 6-12 tahun meliputi ;
a) Self
as rational coper (penguasaan rasional).
Tahap ini muncul ketika anak mulai bersekolah. Segala aturan dan harapan
baru dipelajari dari guru, teman sekolah serta aktivitas yang diberikan dan
tantangan intelektual. Anak belajar bahwa dia dapat memecahkan masalah dengan
menggunakan proses yang logis dan rasional
b) Propriate
striving (berusaha memilki).
Tahap ini ada ketika berada dalam masa adolensi. Allport percaa bahwa masa
adolensi merupakan masa yanga sangat menentukan. Pertanyaan ” who am I ”,
adalah pertanyaan yang biasanya muncul. Karena didorong dan ditarik dalam
arah-arah berbeda oleh orang tua dan teman sebaya, anak remaja itu mengadakan
percobaan dengan kedok dan peranan, menguji gambaran diri, berusaha menemukan
suatu kepribadian orang dewasa. Segi yang sangat penting dari pencarian
identitas diri adalah definisi tujuan hidup.
Tahap – tahap perkembangan proprium di atas berkembang dari masa bayi
sampai masa adolensi. Kegagalan atau kekecewaan yang terjadi pada salah satu
tahap akan berakibat pada tahap yang selanjutnya. Dengan demikian pengalaman
masa kanak-kanak mempunyai peranan penting dalam mewujudkan pribadi sehat
E. PEMAHAMAN
KRITERIA KEPRIBADIAN YANG MATANG ( SEHAT )
1. Perluasan Perasaan Diri.
Orang yang matang adalah mereka yang mengembangakan perhatian di luar
dirinya. Tidak hanya sekedar berinteraksi dengan sesuatu di luar dirinya, namun
ia akan berpartisipasi penuh dan total ” partisipasi otentik yang dilakukan
oleh orang dalam beberapa suasana yang penting dari usaha manusia ”.
Aktivitas yang dimaksud oleh Allpport adalah yang relevan bagi diri,
meningkatkan kemampuan, dan membuat kita enjoy melakukannya. Kesehatan
psikologis seseorang berbanding lurus dengan peranannya terhadap aktivitas yang
dilakukkan.
2. Hubungan Diri yang Hangat dengan Orang Lain
Orang yang sehat secara psikologis mampu memperlihatkan cinta terhadap
orang tua, teman, dan anak . Terdapat perbedaan antara cinta orang yang
neurosis dan cinta dari pribadi yang sehat. Orang yang neurosis harus menerima
cinta lebih banyak daripada kemampuan mereka untuk memberinya, dan syarat akan
kewajiban. Sedangkan cinta dari pribadi yang sehat adalah tanpa syarat, tidak
melumpuhkan, sabar terhadap tingkah laku orang lain, serta tidak mengadili atau
menghukumnya
3. Keamanan Emosional
Kepribadian yang sehat mampu menerima semua segi yang terdapat pada mereka,
termasuk segala kelemahan dan kekurangan tanpa menyerah secara pasif. Orang
yang sehat mampu hidup dengan segi lain dalam kodratnya, dengan memilki sedikit
konflik, baik dengan diri sendiri terlebih dengan masyarakat.
Kepribadian yang sehat juga mampu menerima emosi – memosi manusia; bukan
tawanan dari rasa emosinya. Mereka juga mampu mengontrol emosi, sehingga tidak
mengganggu aktivitas antar pribadi.
Kualitas lain dari keamana emosional adalah ” sabar terhadap kekecewaan ”.
Orang yang sehat akan sabar dalam menghadapi kemunduran, tidak menyerah pada
kekecewaan, melainkan mampu memikirkan jalan keluar untuk mencapai tujuan.
4. Persepsi realistis
Orang yang sehat memandang dunia mereka secara objektif. Mereka tidak
memepercayai bahwa orang di luar dirinya dan lingkungan bersikap kurang
bersahabat atau semuanya baik menurut prasangka pribadi terhadap realitas.
5. Keterampilan dan Tugas
Keberhasilan dalam pekerjaan menunjukkan keterampilan dan bakat tertentu.
Menurt Allport orang yang sehat tidak akan tidak mengarahkan keterampilan pada
pekerjaan. Komitmen pada orang sehat begitu kuat sehingga mengantarkan mereka
pada kesanggupan menenggelamkan semua pertahanan yang berhubungan dengan ego
dan dorongan ketika terbenamdalam pekerjaan
Pekerjaan dan tanggung jawab memberikan arti dan perasaan kontinuitas
hidup. Kematangan dan kesehatan psikologis tidak akan tercapai tanpa melakaukan
aktivitas yang penting dan melakukannya dengan penuh dedikasi, komitmen, dan
keterampilan – keterampilan
6. Pemahaman Diri
Usaha untuk memahami diri secara obyektif mulai pada awal kehidupan dan
tidak akan pernah berhenti, tetapi ada kemungkinan mencapai suatu tingkat
pemahaman diri (self-objectification) tertentu yang berguna dalam setiap usia.
Tentunya kepribadian yang sehat akan mencapai suatu tingkat pemahaman diri yang
lebih tinggi daripada orang-orang yang neurotis.
Orang yang memiliki tingkat pemahaman diri yang tinggi atau wawasan diri
tidak mungkin memproyeksikan kualitas-kualitas pribadinya yang negatif kepada
orang lain. Biasanya orang seperti ini akan diterima dengan lebih baik oleh
orang lain. Allport mengatakan bahwa orang yang memiliki wawasan diri yang
lebih baik adalah lebih cerdas daripada orang yang memiliki wawasan diri yang
kurang.
7. Filsafat Hidup yang Mempersatukan
Orang yang sehat tentunya akan melihat ke depan, yang didorong oleh
tujuan-tujuan dan rencana-rencana jangka panjang. Menurut Allport, dorongan
yang mempersatukan adalah arah (directness), dan lebih terlihat pada
kepribadian yang sehat daripada orang yang neorotis. Arah akan membimbing semua
segi kehidupan seseorang menuju suatu tujuan serta memberikan seseorang alasan
untuk hidup.
Kerangka untuk tujuan khusus itu adalah ide tentang nilai-nilai. Menurut
Allport nilai-nilai sangat penting bagi perkembangan suatu filsafah hidup yang
mempersatukan. Suara hati juga ikut berperan dalam suatu filsafah hidup yang
mempersatukan. Allport berpendapat bahwa, terdapat perbedaan antara suara hati
yang matang dan suara hati yang tida matang atau neurotis. Suara hati yang
matang adalah suatu perasaan kewajiban dan tanggung jawab terhadao diri sendiri
dan kepada orang lain, dan mungkin berakar dalam nilai-nilai agama atau etis,
sedangkan suara hati yang tidak matang sama seperti sura hati kanak-kanak yang
patuh dan membudak, penuh dengan pembatasan dan larangan yang dibawa dari masa
kanak-kanak kedalam masa dewasa.
F. APLIKASI
TEORI ALLPORT DALAM BK
Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. Scheneider
dalam Syamsu Yusuf (2003) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses
respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya
mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri, ketegangan emosional, frustrasi
dan konflik, serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut
dengan tuntutan (norma) lingkungan.
Untuk
kepentingan layanan bimbingan dan konseling dan dalam upaya memahami dan
mengembangkan perilaku individu yang dilayani maka konselor harus dapat
memahami dan mengembangkan setiap motif dan motivasi yang melatarbelakangi
perilaku individu yang dilayaninya ( konselee ). Selain itu, seorang konselor
juga harus dapat mengidentifikasi aspek-aspek potensi bawaan dan menjadikannya
sebagai modal untuk memperoleh kesuksesan dan kebahagian hidup konseleenya.
Begitu pula, konselor sedapat mungkin mampu menyediakan lingkungan yang
kondusif bagi pengembangan segenap potensi bawaan konseleenya.
Terkait
dengan upaya pengembangan belajar klien, konselor dituntut untuk memahami
tentang aspek-aspek dalam belajar serta berbagai teori belajar yang
mendasarinya. Berkenaan dengan upaya pengembangan kepribadian individu,
konselor kiranya perlu memahami tentang karakteristik dan keunikan kepribadian
konseleenya. Oleh karena itu, agar konselor benar-benar dapat menguasai
landasan psikologis, setidaknya terdapat empat bidang psikologi yang harus
dikuasai dengan baik, yaitu bidang psikologi umum, psikologi perkembangan,
psikologi belajar atau psikologi pendidikan dan psikologi kepribadian.
G. BEBERAPA CATATAN MENGENAI
ALLPORT
Untuk beberapa catatan atau kekurangan dalam teori Allport, yaitu :
Ø Kekurangan Allport pada persamaan formal sehingga
tidak memadai untuk banyak penelitian.
Ø Gagal menunjukkan konsep pokok yaitu fungsi
otonomi, mengasumsikan adanya diskontinuitas antara hewan-manusia, masa
kanak-kanak dan dewasa, normal dan abnormal, menekankan keunikan kepribadian,
memberikan perhatian yang terlalu sedikit pada pengaruh sosial, dan faktor
situasioanal.
Ø Selalu menggambarkan manusia pada gambaran terlalu
positif.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Setelah penulis menyelesaikan penyusunan makalah ini penulis dapat
mengambil kesimpulan, diantaranya:
Bahwa kepribadian itu pada dasarnya merupakan suatu keterkaitan antara
psikis dan fisik yang di miliki oleh individu yang akan menentukan perilaku dan
karakter yang dimliki oleh individu tersebut. Namun dalam pembentukan
kepribadian itu sendiri selain dipengaruhi oleh faktor hereditas ternyata
faktor lingkungan juga bisa berpengaruh khususnya keluarga. Sehingga dalam hal
ini individu harus memiliki kemampuan untuk memilih dan menentukan hal-hal yang
bersifat positif dari lingkungan karena setiap individu itu unik agar individu
bisa membentuk kepribadian yang baik dalam dirinya kepribadian itu mempengaruhi
pola pikir dan tingkah laku yang diwujudkannya dan dalam pencapaian kepribadian
yang matang dan sehat dalam hidupnya.
B. Saran
Sebagai ungkapan akhir dari
penyusunan makalah, ada beberapa pesan dan kami sarankan mengenai teori
kepribadian Allport :
1. Pengetahuan mengenai teori
kepribadian Allport memang perlu diketahui oleh para mahasiswa sebab dengan
mengetahui tentang kepribadian, maka kita bisa mengahadapi setiap individu sesuai
dengan yang seharusnya atau dengan poersinya masing-masing.
2. Usahakan lingkungan yang ada
disekitar kita adalah lingkungan yang bisa membantu kita dalam pembentukan
kepribadian yang sehat dan matang.
3. Jangan gunakan ego kita semata pada saat melakukan
interaksi dengan individu lain yang bisa menyebabkan suatu konflik. Karena pada
dasarnya setiap individu itu unik sebab tidak ada satupun individu yang
memiliki kepribadian yang sama dengan ividu lain.
DAFTAR PUSTAKA
Simanjuntak
pelikan ,Julianto.2007.Psikolog kepribadian (bagian 1)

No comments:
Post a Comment