Allah mengutamakan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwa mereka di atas orang-orang yang diam. (QS An-Nisâ’ [4]: 95)
Islam hadir sebagai agama pembebasan. Hal inilah yang sering kali disebut Asghar Ali Engineer dalam bukunya Islam dan Teologi Pembebasan. Ia menggambarkan Islam hadir dengan misi tauhid, pencerahan, dan pengentasan kemiskinan. Sebab, dalam beberapa periode sejarah Islam, persoalan ekonomi-politik menjadi salah satu masalah penting yang dilihat Islam.
Adanya mekanisme zakat, infak dan sedekah, dalam pandangan Asghar, merupakan bentuk perlawanan sistem kapitalistik dan feodal Arab zaman itu. Begitu pula dalam risalah pembebasan seorang budak, Bilal bin Rabbah, dari siksaan majikannya, hal ini menjadi manifestasi perlawanan terhadap ketertindasan.
Namun, kini potret Islam dalam lensa orientalisme sering kali menimbulkan banyak stigma. Edward Said mencatat, “‘Timur’ yang primitif dipakai sebagai cermin untuk membesarkan citra Eropa sebagai pelopor peradaban. Selain itu, mitos dan stereotipe tentang Timur dimanfaatkan sebagai sarana pembenaran Eropa untuk melakukan kolonialisasi: menguasai, menjinakkan, dan mengontrol keberadaan ‘the others’.”
Dari gurun pasir gersang, muncul Hassan Hanafi yang berteriak lantang. Namun, Hassan tidak sendirian, bermunculan beberapa pemikir Islam seperti Muhammad Iqbal, Ali Syari'ati, Murtadha Muthahhari, Fazlur Rahman, Sayyid Qutb, Hassan Hanafi, hingga Arkoun yang mewakili kesadaran zamannya telah banyak menjadikan Islam sebagai solusi dari persoalan kolonialisme, kapitalisme, imperialisme, hingga persoalan-persoalan humanisme.
Di awal abad ke-19 dan 20, para pemikir ini telah berhasil mewujudkan ide menjadi praktik konkret persoalan umat. Muhammad Iqbal di Pakistan bukan hanya berbicara demokrasi Islam, tapi mewujud pada tatanan Republik Islam Pakistan. Ali Syari'ati dan Muthahhari berhasil membangun gerakan massa yang mewujud menjadi Revolusi Islam Iran. Sayyid Qutb dengan Ikhwanul Muslimin membangun gerakan dakwah dan menghimpun pemuda kritis dan religius. Arkoun dan Fazlul Rahman membangun kesadaran umat lewat intelektualitas.
Islam kemudian hadir dan menjelma dalam bentuk gerakan politik, sosial, dan intelektual. Sayangnya, pundi-pundi pemikiran yang telah dibangun di atas kesadaran zaman itu justru lumpuh di persimpangan jalan. Ide-ide Pan-Arabisme hingga Pan-Islamisme yang mewakili semangat Kebangkitan Islam kini justru gagal, dan sebagian yang lain justru fokus pada gerakannya sendiri.
Di satu sisi, kegagalan dan partikularitas gerakan seharusnya semakin memperkaya dan mempertajam analisis dalam membaca problem umat, tapi yang tampak justru kontradiksi dari berbagai gerakan Islam yang sering kali menuai konflik. Hal ini yang pada akhirnya mengembalikan posisi umat dalam keterpurukan.
Seperti ditulis oleh Deepa Kumar, “Perubahan menuju sekularisasi dan modernisasi dipicu oleh penyebaran kapitalisme dan eskpansi kolonialisme di berbagai kerajaan Muslim. Faktanya, pada era
perkembangan kapitalisme, Islam pada akhirnya berhenti memainkan peranan penting dalam organisasi sosial. Sebagai respons atas dikuasainya wilayah mereka oleh kekuasaan kolonial Eropa....”
Melangkah ke Kiri
Muncul Hassan Hanafi dengan Kiri Islam-nya. Menurutnya, kiri mengangkat posisi kaum yang tertindas, kaum miskin, dan yang menderita. Dalam terminologi ilmu politik, kiri juga menempatkan kembali rasionalisme, naturalisme, liberalisme, dan demokrasi dalam khazanah intelektual Islam. Kiri dan kanan tidak ada dalam Islam itu sendiri, tetapi “ada” pada tataran sosial, politik, ekonomi, dan sejarah. Bagi Hassan Hanafi, mengenalkan terminologi kiri dan orang-orang kiri adalah penting bagi upaya menghapus seluruh sisa imperialisme.
Kiri Islam merupakan respons Hassan Hanafi atas tantangan Barat, melanjutkan perjuangan Al-Afghani melawan kolonialisme. Menurutnya, penggunaan nama “kiri” sangat penting, karena dalam citra akademik, kiri adalah konotasi untuk melawan dan kritisisime. Namun, dalam dunia Islam, pengertian kiri sering kali disalahpahami. Kiri dikenal sebagai “kafir” dan “ateis”.
Secara tegas, Hassan Hanafi mencemooh pandangan tersebut. Baginya, sikap itu merupakan sisa-sisa penjajahan imperialisme kultural yang justru memunculkan bias wacana yang mencegah massa Muslim mendukung ide-ide radikal menyoal penindasan.
Pembongkaran atas situasi “mapan” dari sebuah kekuasaan inilah yang menjadi semangat ilmiah istilah “kiri”, terutama pembongkaran atas berbagai kekuasaan yang berlindung di balik jubah ideologi-ideologi, atau bahkan berlindung di balik ajaran-ajaran agama. Kiri Islam-nya Hassan Hanafi merupakan sintesis dari sistem ideologi kapitalisme yang gagal mengangkat martabat manusia. Hal ini dilakukannya agar Islam yang sejak awal merupakan sistem kehidupan yang membebaskan kaum tertindas tetap dipertahankan dan menjadi suatu sistem ideologi yang populistik—ideologi kaum tertindas.
Identitas Epistem Kiri Islam
Seperti manifestasi awal munculnya jurnal Kiri Islam, Hassan Hanafi berupaya untuk merevitalisasi khazanah Islam klasik, yang menurutnya dalam sejarah pemikiran Islam, banyak ditemukan para intelektual Islam yang berdekatan dengan penguasa, sehingga memunculkan banyaknya ketumpulan dalam dinamika pemikiran Islam yang berakhir pada jauhnya umat Islam dari realitas sosialnya.
Untuk itu, Hassan Hanafi dalam hal Kiri Islam memosisikan epistemnya sendiri. Islam intelektual natural seperti yang dikemukakan Ibnu Rusyd dan juga mazhab hukum Islam Maliki yang bersandar pada kesejahteraan adalah kiri. Cara berpikir Hassan hanafi ini sangat kental dengan rasionalisme, tapi secara tegas Hassan Hanafi menolak rasionalisme yang tumbuh di dunia Barat.
Ia menjelaskan, rasionalisme mencurahkan perhatiannya pada bentuk tanpa isi. Akibatnya, muncul eksperimentalisme Eropa yang menentang rasionalisme tersebut, yang lebih menyukai isi daripada bentuk, materi daripada rasio. Kedua, rasionalisme berubah dari kritik fundamental ke penolakan prinsip, kemudian ke penghancuran dirinya secara terus-menerus. Rasionalisme menjadi penghancur dirinya sendiri.
Ketiga, rasionalisme jatuh ke dalam transformasi yang rahasia dan iman ke tingkat rasio dan bukti. Kemudian, asosiasi ideal muncul atas nama gereja, dan keabsolutan atas nama Tuhan. Descartes dan Kant membawa Injil baru dengan agama Kristen yang rasional, ideal, dan etis. Keempat, rasionalisme memusatkan perhatiannya pada dirinya sendiri, tubuh manusia Eropa. Ia mengikrarkan humanisme yang terbatas. Maka rasionalisme ini menolak rasio bangsa-bangsa non-Eropa.
Kelima, rasionalisme Eropa belum menghasilkan jejak aktual apa pun. Ia hanya mengubah politik secara formal. Pada hakikatnya, bangsa-bangsa Eropa masih Romawi. Keenam, rasio berubah ke alam aktivitas bebas, kemudian ke dalam kemapanan sistem liberal yang mendukung sistem kapitalis, yang pada gilirannya mengarah pada monopoli dan ublisasi. Setelah proses ini, rasio menjadi hampa nilai.”
Tauhid sebagai Prinsip
Dalam menjawab kekeringan pemikiran filsafat Barat, Kiri Islam menurut Hassan Hanafi bersumber pada semangat revolusi tauhid sebagai basis Islam. Untuk membangun kembali peradaban Islam, mau tak mau diperlukan upaya membangun kembali semangat revolusi tauhid sebagai misi para nabi dan rasul.
Nabi Muhammad Saw sebagai rasul terakhir mengembangkan misinya dari rumusan tauhid—lâ ilâha illâ Allâh—yang kemudian dimanifestasikan dalam syahadat dan merupakan transformasi tauhid ilahiyah pada tataran tauhid al-ummah. Artinya, rasionalisme dalam sudut pandang Hassan Hanafi menjadikan Al-Quran sebagai sumber pengetahuan dan aktualisasi gerakan.
Bagi Hassan Hanafi, revolusi tauhid ilahiyah merupakan konsekuensi logis yang membebaskan manusia dari penghambaan, pengultusan, dan penyakralan terhadap mitos-mitos politik, ekonomi, sosial dalam struktur sosial kemasyarakatan. Sedangkan revolusi tauhid al-ummah menekankan pada aspek transformasi pembebasan kehidupan manusia dalam sistem kemasyarakatan yang tanpa dibatasi kelas, egalitarianisme, dan tidak eksploratif dalam segala dimensi pada kehidupan kemasyarakatan.
Atau dengan kata lain, seperti yang ditulis Shimogaki, “Jaringan relasional yang muncul dari pandangan dunia tauhid pada prisipnya selalu berjalan, untuk menciptakan sebuah bangunan umat yang sempurna atau tercipta hubungan yang sempurna di dalam umat.”
Tauhid, sebagaimana yang dimaksud Hassan Hanafi, tidak ada dualisme yang membagi dunia ini pada materi dan ruh. Akhirnya, segala sesuatu akan kembali pada Tuhan, Kita milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali (QS Al-Baqarah [2]: 156). Dalam hal ini, terlihat bahwa tidak ada superioritas manusia atas makhluk warga dunia yang lain. Untuk itu, “hubungan antara Tuhan dan dunia adalah hubungan antara Pencipta dan yang diciptakan, jadi hubungan sebab-akibat penciptaan.
Maka tauhid secara logis bahwa penciptaan Tuhan adalah esa. Ia menolak segala bentuk diskriminasi berdasarkan ras, warna kulit, kelas, garis keturunan, kekayaan, dan kekuasaan. Ia menempatkan manusia dalam kesamaan. Ia juga menyatukan manusia dan alam melengkapi penciptaan Tuhan. Keesaan Tuhan berarti keesaan kehidupan, yakni tidak ada pemisahan antara spiritualitas dan keduniawian, antara agama dan dunia.
Inilah semangat revolusi tauhid yang menurut Hassan Hanafi menjadi manifestasi umat Islam untuk membangun peradaban di kemudian hari.

No comments:
Post a Comment