Filosofi Kepemimpinan
Nusantara
Setiap
peradaban masyarakat memiliki pemimpin baik formal maupun informal. Proses
kepemimpinan itu pasti menoreh catatan atau jejak keberhasilan, kegagalan,
kebaikan, dan keburukan. Setiap pemimpin pada jamannya tidak mungkin lepas dari
lingkungannya dan segala permasalahan yang melingkupinya.
Melihat Maha
Patih Gadjah Mada harus melihat dia sebagai manusia yang tidak lepas dari
segala kehidupan manusiawinya. MPGM adalah sebuah sosok patriot yang cinta
negeri luar biasa dan berasal dari rakyat jelata serta meniti karirnya sejak
dari bawah hngga menjadi Maha Patih di Majapahit. Sebagai pemimpin pada
jamannya, keberhasilan MPGM menyatukan Nusantara dengan segala plus minusnya
bagaimanapun juga pantas dan layak untuk dipelajari, diambil yang baik dan
meninggalkan yang kurang baik.
Dari
berbagai sumber tertulis bahwa Maha Patih Gajah Mada meniti karirnya dari bawah
sebagai prajurit hingga menjadi Bekel dan patih di beberapa tempat melalui
proses kaderisasi. Selama proses itu berbagai bidang keilmuan, olah kanuragan,
dan olah spiritual dilalui. Aryo Tadah adalah terminal terakhir pencarian
melalui proses nyantrik. Dalam proses ini tentu saja terjadi values system
transformation dan refleksi diri sebelum akhirnya MPGM mendalami dan
memperluas sendiri melalui proses lakunya. Semua yang dipelajari dan diperoleh
telah menyatu dalam diri dan menjadi MPGM.
Bisa
dipahami bila MPGM menyerap ilmu pengetahuan dan nilai-nilai budaya yang
berkembang pada saat itu yang kuat dipengaruhi oleh ajaran Budha dan Hindu yang
sudah berakulturasi dengan budaya Jawa pada saat itu. Berbagai tulisan memang
menyebut berbagai sumber pegangan kepemimpinannya, misal Brhe Tandes dengan
Astadasa Kôttamaning Prabhu, dan masih banyak lagi; di sumber lain
disebut Asta Dasa Berata Pramiteng Prabhu. Salah satu kearifan yang menjadi
pegangan MPGM dan perlu diangkat adalah ajaran Prabu Arjuna Sasrabahu dalam pewayangan,
yaitu Panca Titi Darmaning Prabu atau lima kewajiban sang
pemimpin, yang terdiri dari[1] :
- Handayani Hanyakra PuranaSeorang pemimpin senantiasa memberikan dorongan motivasi, dan kesempatan bagai generasi mudanya atau anggotanya untuk melangkah ke depan tanpa ragu-ragu
- Nadya HanyakrabawaSeorang pemimpin di tengah-tengah masyarakatnya senantisa berkonsilidasi utuk memberi bimbingan dan mengambil keputusan dengan musyawarah untuk mufakat yang mengutamakan kepentingan masyarakat.
- Ngarsa HanyakrabawaSeorang pemimpin sebagai seorang yang terdepan dan terpandang senantiasa memberikan panutan-panutan yang baik sehingga dapat dijadikan suri teladan bagi masyarakatnya
- Nir Bala WikaraSeorang pemimpin tidaklah selalu menggunakan kekuatan atau kekuasaan di dalam mengalahkan musuh-musuh atau saingan politiknya, Meskipun demikian, berusaha menggunakan pendekatan pikiran, lobi sehingga dapat menyadarkan dan disegani pesaing-pesainnya.
- Ngarsa Dana UpayaPemimpin sebagai seorang ksatria senantiasa berada terdepan dalam mengorbankan tenaga, waktu, materi, pikiran, bahkan jiwanya sekalipun untuk kesejahteraan dan kelangsungan hidup masyarakat.
Dalam sumber
lain, misal Dr Ir R. Panji R Hadinoto[2]. juga
membahas Pancatiti Darmaning Prabu yang diproyeksikan
menjadi pegangan para pemimpin idaman masa depan Indonesia.
Pancatiti Darmaning Prabu[3] diangkat
dalam Blog ini sebagai upaya mengangkat kembali mutiara-mutiara terpendam
filosofi kepemimpinan Indonesia, melengkapi peninggalan Ki Hadjar Dewantara
atau RM Suwardi Suryaningrat, setelah dalam pengajaran di kampus-kampus di
Indonesia, mahasiswa dibombardir dengan model-model kepemimpinan barat yang ada
dalam literatur barat sebagai acuan dosen.
Bila kita
melihat butir-butir Pancatiti Darmaning Prabu, maka dari sudut
pandang model manajemen dan kepemimpinan:
Handayani Hanyakra Purana merupakan kewajiban pemimpin untuk melakukan
kaderisasi kepemimpinan. Leader creates leaders. Proses ini dilakukan
dengan laku magang atau nyantrik, learning by doing, dimana
pemimpin menurunkan ilmu dan kearifannya kepada yang nyantrik. Proses
gemblengan lahiriah, batiniah, dan spiritualitas dilakukan dengan dengan
cara menjalani atau laku. Dalam istilah modern disebut sebagai capacity
building yang dilakukan dengan cara belajar sambil menjalani. Jadi, belajar
kepemimpinan itu bukan hanya secara kognitif saja.
Nadya Hanyakrabawa merupakan kewajiban pemimpin masyarakat untuk
selalu ajur-ajèr atau cair atau tidak menjaga jarak dan menyatu
dengan masyarakat yang dipimpinnya dalam memecahkan masalah yang dihadapi tanpa
harus mendominasi proses. Dalam proses ini terlihat bagaimana seorang pemimpin
seperti dalam 2IT KHD menjalankan
Ing Madya Mangun Karsa, bahkan bila terjadi perbedaan pendapat maka
musyawarah untuk mufakat seperti dalam sila ke empat Pancasila
yang diutamakan.
Ngarsa Hanyakrabawa, seorang pemimpin sebagai Values System Transformers
adalah suri tauladan, maka pemimpin harus memberi contoh mengenai Values
System yang telah diberikan. Satunya kata dan perbuatan seorang pemimpin
sehingga cantrik atau masyarakat yang dipimpinnya bisa belajar dengan cara
melihat, merasakan dan melakukan. Ini seperti Ing Ngarso Sung Tulodho dalam 2IT
KHD.
Nir Bala Wikara, seorang pemimpin harus cerdas dalam menggunakan
sumber-sumber kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya dalam konflik, pan
mapan atau tepat waktu, tepat tempat, tepat situasi, tepat cara, dan tepat
sarana. Lebih menghindari konflik lahiriah dan lebih mengusahakan untuk
menggunakan cara-cara yang lebih sesuai dengan titah manusia yang manusiawi
yaitu mengedepankan nalar dan nurani. Meskipun demikian, bukan berarti seorang
pemimpin tidak perlu mempunyai kelebihan-kelebihan? bukan ! Kelebihan itu tidak
perlu diobral sehingga menjadi adigang-adigung-adiguno, sopo siro
sopo aku, tetapi digunakan pada saat yang tepat. Kelebihan-kelebihan itu
akan terpancar dengan sendidiranya dari dalam diri pemimpin bila laku
itu dilakukan sehingga menjadi pemimpin yang Ambeg Para Amarta dan Bèrbudi
Bowo Laksono yang akan membuatnya disegani oleh lawan dan kawan. Ini
sejalan dengan Menang dalam 4N
KHD.
Ngarsa Dana Upaya, seorang pemimpin adalah seorang wira, ksatria yang
memiliki karakter pahlawan, yaitu pribadi yang rela mengorbakan enerji,
waktu, pikiran, bahkan jiwa dan raga bagi kejayaan nusa dan bangsanya.
Jadi, pemimpin adalah patriot. Ini tentu saja sangat kontekstual dengan Amukti
Palapa yang tentu saja membutuhkan banyak patriot. Bagaimana dengan bangsa ini
saat ini? Keterpurukan bangsa ini dan semangat kebangsaan yang diufuk barat
serta demikian banyak masalah besar yang sedang dihadapi oleh bangsa ini jelas
membutuhkan banyak patriot disegala bidang untuk menggerakkan masyarakat guna
mengembalikan kejayaan negeri. Pendidikan adalah tempat dimana masa depan
bangsa digantungkan.
Pancatiti Darmaning Prabu adalah satu diantara banyak sumber pengetahuan
kepemimpinan dan spiritual Maha Patih Gadjah Mada sejak beliau meniti karirnya
dari bawah sebagai prajurit hingga di akhir karirnya. Nilai-nilai yang
terkandung didalamnya ternyata tetap kontekstual bagi pemimpin hingga saat ini.

No comments:
Post a Comment